Jumat, 26 Oktober 2018

Agama bagi Mahasiswa


Agama sangat berperan penting dalam membangun pendidikan mental dan moral. Tanpa agama kehidupan seseorang akan hancur, tidak punya ketenangan hidup, dan pastinya tidak punya tujuan hidup yang jelas. Selain itu agama juga merupakan sesuatu yang wajib dimiliki setiap orang. Kita sebagai warga Indonesia seharusnya tidak mengenal Atheis atau liberalisme karena kita diwajibkan untuk beragama sesuai dengan sila pancasila yang pertama, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. 




Dalam kehidupan kampus rata-rata agama dikesampingkan. Banyak Perguruan Tinggi yang hanya ingin meningkatkan Kampusnya agar memiliki akreditas yang semakin baik, semakin dikenal luas oleh masyarakat dengan cara,misalnya banyak memenangkan lomba –lomba dibidang akademik maupun non akademik, menciptakan inovasi- inovasi di bidang teknologi , dan sebagainya.

Jarang saya melihat sebuah Perguruan Tinggi yang mengedepankan ilmu agamanya ketimbang pendidikan formalnya. Rata- rata perguruan tinggi hanya memasukkan pelajaran agama 1 sks saja bahkan tidak memasukkannya sama sekali. Padahal agama sangat penting. Sebuah Negara akan hancur jika tidak diatur oleh agama. Kalau dari kuliah saja sudah sedikit diajarkan ilmu- ilmu agama, gimana nanti untuk kedepannya.



Setelah lulus kuliah nanti pasti banyak dari mahasiswanya yang ingin langsung bekerja atau melanjutkan studinya di jenjang S2. Namun jarang sekali mahasiswa setelah lulus kuliah yang ingin mendalami agamanya. 


Padahal, setelah lulus kuliah banyak sekali waktu luang yang dapat digunakan untuk mendalami ilmu agama selagi mencari pekerjaan ataupun melanjutkan ke S2. Mahasiswa setelah lulus kuliah, rata-rata hanya fokus pada karir. 


Mereka takut jika tidak cepat mencari kerja maka akan menjadi pengangguran. Tuntutan orang tua yang memaksakan anaknya untuk bekerja, juga dapat mempengaruhi pola pikir anak menjadi berubah.


Dalam Perguruan Tinggi rata- rata sks yang paling banyak ada pada mata kuliah kalkulus, fisika dasar, ataupun kimia dasar. Perguruan Tinggi biasa memasukan pelajaran mata kuliah tersebut dengan 3 sks ataupun 2 sks. Jarang saya melihat agama dijadikan 2 sks bahkan 3 sks. Padahal agama sangat berperan penting dalam kehidupan kampus.





Peran Agama dalam kampus


Dalam Perguruan Tinggi agama sangat berperan penting. Agama sebagai pengontrol pada semua kegitatan. Suatu kegitan apapun tidak akan berjalan lancar dan tidak akan berjalan dengan apa yang diinginkan jika tidak ada agama di dalam dirinya. Oleh karena itu, jadikanlah agama menjadi nomor satu sebelum memulai suatu kegiatan.

Jika kita ingin melakukan suatu kegiatan alangkah baiknya, jika kita berniat terlebih dahulu. 


Mintalah ridha kepada yang maha kuasa karena apapun yang kita lakukan, apapun yang kita inginkan tergantung dari niatnya. Jika niat kita baik maka hasilnya akan baik. Namun sebaliknya, jika niat kita buruk atau tidak ikhlas, maka hasil yang kita dapat akan sebanding dengan niat tersebut.



Rasulullah SAW pernah bersabda: “dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radiallahuanhu, dia berkata: saya mendengar Rasulullah bersabda: sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang dia niatkan.”  Jadi alangkah baiknya, semua kegiatan kita kita awali semua dengan niat yang baik. Jangan sekali- kali berniat buruk karena nanti akan mendapat balasan yang setimpal dengan niat tersebut.


Jika dalam Perguruan Tinggi memiliki kegiatan keagamaan yang aktif maka  kehidupan di kampus tersebut pasti jauh lebih nyaman ketimbang kampus-kampus lain begitupun sebaliknnya karena agama dapat menyatukan satu sama lain dan bisa saling mengingatkan untuk beribadah bersama- sama.


Kegiatan mentoring tersebut biasanya diisi dengan : pengajian, menghafal alquran dan hadist bersama, saling mengingatkan satu sama lain untuk sholat tepat waktu, dan terkadang saling mengingatkan untuk puasa sunnah bersama-sama

Ceramah singkat, kita juga dapat bercerita pengalaman keagamaan kepada teman-teman dan juga dosen mentoring, saling bertanya, dan saling berbagi. Jika nantinya dari pengalaman tersebut menimbulkan masalah, kami menampung semua masalah tersebut dan kami pecahkan masalah tersebut bersama- sama untuk mendapatkankan solusi yang terbaik.


Mereka juga mengadakan kegiatan mentoring untuk setiap minggunya sama seperti agama islam. Oleh karena itu, saya menganggap kegiatan- kegiatan seperti itulah yang sebaiknya ada di setiap perguruan tinggi. Jadi tidak hanya pendidikan formal dan softskill saja yang dikembangkan di kampus, kegiatan keagamaan juga harus dikembangkan.

Tidak ada komentar: