Jumat, 26 Oktober 2018

Process for Creating World Entire

    Alam semesta adalah ruangan yang sangat besar dan mungkin tak terbatas dalam volume, hal yang dapat diamati adalah tersebarnya ruang pada ukuran setidaknya 93 miliar tahun cahaya. Sebagai perbandingan, diameter sebuah galaksi khas hanya 30.000 tahun cahaya, dan jarak khas antara dua galaksi tetangga hanya 3 juta tahun cahaya.
Sebagai contoh, panjang diameter Galaksi Bima Sakti kira-kira 100.000 tahun cahaya, dan galaksi saudara terdekat kita, galaksi andromeda, terletak sekitar 2,5 juta tahun cahaya.

Bagaimana proses penciptaan alam semesta menurut Islam ?

Al-Qur’an sebagai sumber ajaran inti agama Islam, diturunkan untuk menjelaskan kepada manusia hal-hal yan tidak bisa dimengerti oleh akal mereka secara mandiri, seperti esensi iman, ritual-ritual ibadah, serta landasan-landasan etis dan hukum yan berguna untuk mengatur interaksi sosial di antara sesama manusia. selain itu, al-Qur’an juga membicarakan alam semesta, yang meliputi bumi dan langit, unsur-unsurnya yang beraneka ragam, para penghuninya, serta fenomena-fenomena di dalamnya.
Perlu diketahui bahwa ketika al-Quran membicarakan tentang alam semesta (universe) ini, al-Quran tidak membahasnya secara detail. Al-Quran hanya membahas garis besarnya saja, karena al-Quran bukanlah kitab kosmologi atau buku-buku ilmu pengetahuan umumnya yang menguraikan penciptaan alam semesta secara sistematis. Namun, lebih dari seritu ayat berbicara tentang alam semesta ini, untuk membuktikan kekuasaan, ilmu, dan kebijaksanaan tak terbatas Sang Pencipta, yang memapu menciptkan jagat raya ini, melenyapkannya, lalu mengembalikannya ke bentuknya semua.




            Hal tersebut dapat kita lihat dalam firma Allah SWT berikut :

 Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Diaberkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia (QS. Al-Baqarah: 117).
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (QS. Hud: 7).
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As-Sajdah: 4).



   Berangkat dari informasi ayat-ayat al-Quran tentang penciptaan alam, maka penulis berusaha menjelaskan proses penciptaan alam semesta menurut al-Quran. Untuk mencapai maksud tersebut, memang dirasakan kesulitan tersendiri, karena al-Quran selain bersifat universal dan informasinya mengandung prinsip-prinsip dasarnya saja, juga yang dibicarakannya menyangkut alam fisis.

    Dari informasi pertama tentang proses penciptaan alam semesta yang terdiri dari tiga bentuk kata yang erat kaitannya dengan hal ini, yaitu khalq, bad’ dan fathr, tidak ditemukan pada redaksinya penjelasan yang tegas, apakah alam semesta diciptakan dari materi yang sudah ada atau dari ketiadaan? Jadi ketiga bentuk kata tersebut hanya menjelaskan bahwa Allah pencipta alam semesta tanpa menyebut dari ada tiadanya.

Sementara “Ibnu Jarir dalam Tarikh al-Thobari” menyinggung bahwa periodesasi atau tahapan penciptaan alam dapat disimak dari hadits Nabi ketika menjawab pertanyaan orang-orang Yahudi yang mendatangi Rosul saw dan menanyakan perihal penciptaan langit dan bumi.
Maka Rosul menjawab bahwa

          “Allah menciptakan bumi pada hari ahad dan senin, lalu menciptakan gunung-gunung pada hari selasa, lalu di hari rabu allah menciptkan pepohonan, air dan infastuktur bumi, bangunan dan perusakan, pada hari kamis Allah menciptakan langit. Lalu pada hari jum’at Allah menciptakan bintang- bintang, matahari dan malaikat, hingga tersisa tiga masa (sa’at) dari zaman itu, pada masa pertama (al-sâ’ah al-ûla) dari tiga masa tersebut adalah penciptaan ketentuan-ketentuan hidup dan mati, kedua (al-sâ’ah al-tsâniyah) memberikan suatu cobaan terhadap segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, ketiga (al-sâ’ah al-tsâlitsah) menciptakan adam dan menempatkannya di surga dan memerintahkan pada iblis untuk bersujud padanya dan mengeluarkan iblis dari surga”.
          Kemudian orang-orang Yahudi tadi bertanya tentang apa yang dikerjakan Allah selanjutnya, Muhammad menjawab “kemudian Allah bersemanyam dalam arsy”
Lantas mereka berkata ‘kamu benar seandaikan kamu sempurnakan lagi (dari cerita)’, mereka menjawab, kemudian (Allah) beristirahat. Dengan ucapan tadi Nabi amat marah, maka turunlah ayat
“Dan kami telah menciptakan langit dan bumi dan diantara keduanya selama enam masa tanpa kecapaian. Maka bersabarlah (wahai Muhammad) atas ucapan mereka….Surat Qaf : 38-39.

           Kemudian proses berikutnya dideskripsikan oleh surat al- Anbiya’/21: 30,
“Apakah orang-orang kafir tidak mengetahi bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuau yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”. (QS. Al- Anbiya’: 30).
Ayat ini merupakan satu-satu ayat al-Quran yang menerangkan “pembentangan” alam semesta. Dapat disimpulkan bahwa ruang alam (al-sama’) dan materi (al-ardl) sebelumnya dipisahkan Allah adalah sesuatu yang padu. Jadi alam semesta ketika itu merupakan satu kumpulan.
Rangkaian proses berikutnya, --setelah terjadi pemisalah oleh Allah—alam semesta mengalami proses transisi fase membentuk dukhon. Hal ini terungkap dari pernyataan Surat Fushshilat : 11;
kemudian Allah menuju penciptaan ruang alam (al- sama’), yang ketika itu penuh “embunan (al-dukhon)”.



       Hal ini disebabkan, agar tidak terjadi kekeliruan dalam menangkap maksud kata ‘dukhon’ yang dihubungkan dengan proses penciptaan alam semesta, maka seharusnya kata ini dipahami degan hasil temuan sains yang telah terandalkan kebenarannya secara empiris. Hasil temuan ilmuan mengenai hal ini adalah bahwa suatu ketika dalam penciptaan terjadinya ekspansi yang sangat cepat sehingga timbul “kondensasi” dimana energi berubah menjadi materi.

     Kata “al-dukhan (embunan)” bukanlah menunjukkan materi asal ruang alam, akan tetapi ia menjelaskan tentang bentuk alam semesta ketika berlangsungnya fase awal penciptaannya.
Kemudian dalam al-Quran disebut berturut-turut disebut bahwa alam semesta diciptakan selama enam tahap atau periode (ayyam). Secara global disebut dalam surat Hud/11:7
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.
Kemudian diulang kembali penyebutannya dengan menambah “apa yang ada diruang alam dan materi”, dalam surat al-Sajdah : 4.



       Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As-Sajdah: 4).
Keterangan ini juga didukung beberapa ayat yang konteksnya sama dalam surat Fushshilat : 9-12,
Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam.” (9). Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. 

      Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. (10). Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (11). Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik- baiknya.     Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (12) (QS. Fushshilat: 9-12)


           Di kuatkan juga surat al-A’raf : 54,
       
     Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang- bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam (al-A’raf: 54).
(Allah)Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. (al-Furqan: 59).
Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. (QS. Qaf: 38)
   
     Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4)
Kata yaum dengan jama’nya ayyam (tahapan) atau periode dalam al-Quran bukanlah dimaksud batasan waktu antara terbenamnya matahari hingga terbenam lagi esoknya seperti hari dibumi kita ini. Menurut kalam arab dan kebanyakan ayat-ayat al-Quran, kata ini dipakai untuk suatu masa atau periode (juz’ min al-zaman) yang kadarnya tidak dapat ditentukan dan tidak ada seorang pun yang mengetahui hakikatnya secara pasti kecuali Allah. Yaum jika diterjemahkan hari sama dengan hari dunia saat ini, maka tidak logis dan ia bertentangan juga dengan ayat-ayat al-Quran yang lain. Tidak logis karena penciptaan hari ini baru ada setelah penciptaan alam semesta.




         Dalam al-Quran banyak ayat yang secara eksplisit menyebutkan ruang alam (al-sama’) berjumlah tujuh. Sedangkan materi (al-ardl) sebagaimana ruang alam secara implisit disebutkan juga jumlahnya tujuh. 


      Sebagaimana yang tertera dalam surat al-Thalaq : 12

“Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah agar berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhanya Allah, ilmu-Nya benar meliputi segala sesuatu”. (QS. Ath-Thalaq: 12)
Sumber : Ahmad Atabik, Konsep penciptaan alam: Studi Komparatif-Normatif antar Agama-Agama, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus.



Al-Quran sebagai kitab suci yang terakhir diturunkan ke bumi pun banyak membahas tentang kejadian alam dan segala peristiwa yang berkaitan dengannya, yakni pada beberapa surat yang ada didalamnya.

1. Big Bang

Semua kalangan ilmiah sepakat bahwa ledakan “Big Bang” bermula dari sebuah titik tunggal sekitar 15 milliar tahun lalu (Harun Yahya, Penciptaan Alam Raya, Dzikira, Bandung 2003). Bahwa alam semesta memiliki permulaan dari ketiadaan pada sebuah moment ledakan besar. Lebih lanjut terbukti bahwa alam tidak statis/tetap.
Teori Big Bang menunjukkan bahwa semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. maka mengapa mereka tidak juga beriman?” (QS. Al Anbiya’: 30)
Pada awal abad ke 20, fisikiawan Rusia, Alexander Friedmann dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre secara teoritis menghitung bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang. Fakta ini dibuktikan dengan data pengamatan pada tahun 1929 ketika mengamati langit dengan teleskop oleh ahli astronomi asal Amerika, Edwin Hubble.
Singkatnya bintang-bintang bergerak menjauh dan semakin menjauh setiap saat berarti ia terus menerus “mengembang”.
Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dengan kekuatan kami. dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa. (Q.S. Adz Dzariat 51:47)
Kata “langit” yang dinyatakan dalam ayat tersebut digunakan di pelbagai tempat dalam Al-Quran. Kata ini mengacu pada angkasa dan jagat secara keseluruhan. Dalam kalimat bahasa Arab, Inna lamusi una yang diterjemahkan menjadi ‘sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya’. Kata Musi una berasal dari kata kerja aswa’a, yang berarti ‘mengembang’.

2. Evolusi

Mengenai lika-liku mahluk hidup dan asal usul kehidupannya, maka saya memperkenalkan teori Darwin, bapak evolusi yang menerangkan tentang asal mula mahluk hidup dalam bukunya yang terkenal “The Orign of Species” (Asal-usul mahluk hidup). Mungkin teori juga yang menjadi Influence dalam film Planet of the Apes.
Dalam teorinya itu Darwin menyatakan, bahwa semua mahluk hidup itu berasal dari jenis yang sama, akan tetapi mereka berbeda-beda dalam bentuk dan fisiknya. Dalam perjalanannya mengelilingi dunia, Darwin mencoba mengumpulkan beberapa sample (contoh) mahluk hidup, baik yang didarat, laut, di atas permukaan air dan juga yang didasar laut. 



                   Dan dari penelitiannya itu ia mencatat beberapa kesimpulan diantaranya sebagai berikut:
·         Bahwa sebenarnya kehidupan itu selalu berubah dan berevolusi dari bentuk asalnya, sesuai dengan lingkungan dan kondisinya.
·         Orang yang berdomisili di daerah kutub secara otomatis tubuhnya akan gemuk dengan lemak. Yakni agar dapat beradaptasi dengan iklim dingin (salju). Dan orang yang berdomisili di daerah beriklim tropis dan panas, maka secara otomatis tubuh mereka terlihat kurus agar tidak terlalu panas oleh sinar matahari.
·         Binatang kadal yang hidup didalam goa yang gelap, biasanya penglihannya itu tidak berfungsi dan juga tidak berwarna. Sedangkan kadal yang hidup di daratan mempunyai penglihatan yang tajam dan berwarna
·         Mulut-mulut hewan yang hidup di dunia ini, pada prinsipnya berbeda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kegunaan dan manfaatnya masing-masing. Seperti harimau mempunyai gigi yang tajam dan kuat, yang bermanfaat untuk menggoyak dan merobek daging mangsanya. Sedangkan burung memiliki paruh untuk mematuk biji-bijian. Demikian pula nyamuk dengan mulutnya yang berbentuk suntikan, berguna untuk menghisap darah, dan lain sebagainya.
   


    Kemudian muncul sebuah pertanyaan: “apakah benar teori yang menyatakan, bahwa seluruh hewan yang ada dimuka bumi ini berasal dari satu species? Lalu dari satu species ini berkembang dan ber evolusi dalam berbagai macam bentuk serta rupa yang bermacam-macam berdasarkan pada iklim dan kondisi yang ditempatinya.
         Maka berdasarkan beberapa riset dan penelitian anatomi bahwa jumlah jari kaki dan tangan manusia ada lima, yang mana sama dengan jumlah jari kaki dan tangan kera, kucing, dan bahkan kekelawar. Juga hati dan aliran darah manusia sama persis dengan aliran darah ikan paus, kera, tikus, dan binatang berdarah panas lainnya.
        
      Demikian pula beberapa persamaan yang ada pada setiap hewan/binatang di muka bumi ini, seperti urat nadi, susunan syaraf, tulang punggung, otot dengan tulang.alat-alat reproduksi pada hewan seperti testis, ovary, saluran testis dan Rahim juga mempunyai kemiripan. Ini membuktikan bahwa ada satu kesamaan dan kemiripan pada hewan-hewan yang ada dimuka bumi ini. Kemudian penemuan tengkorak manusia purba yang mirip dengan kera di daerah Transaval, Beijing, dan Jawa (manusia Trinil) di dalam goa-goa yang penuh dengan batu bara, menunjukan: bahwa manusia-manusia purba tersebut telah menemukan cara membuat api dan mempergunakannya sejak ratusan ribu tahun lalu. Darwin telah menyatakan dalam teorinya bahwa ‘manusia berasal dari kera yang mempunyai IQ yang tinggi’, sebagimana yang kita pahami selama ini. Dan hal itu merupakan guyonan media massa yang mengeksploitasi dan menyebarkannya dalam bentuk karikatur, hingga akhirnya menciptakan image negative terhadap teori Darwin.
               
            Tentunya teori Darwin tidak dapat menyelami sebagian rahasia alam, bahwa ada tangan-tangan yang merancang dan menyusun semua keajaiban di dunia ini. Kelemahan indra penglihatan ini menyebabkan kita melihat segala sesuatu tanpa kita melihat langsung pembuatnya. Kita bias melihat gerobak, becak, delman, motor, mobil, dan kereta, akan tetapi kita tidak dapat melihat secara langsung siapa pembuatnya.   Kemudian kita berdalih bahwa alat-alat transportasi tersebut ada sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.


Kemudian ada juga ayat yang menyebutkan :

“Bahwa sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan Kamu (manusia, Adam) selama beberapa masa”.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (yang berasal dari) tanah. (Al Mu’minum - 12)
Ini berarti bahwa sebelum Nabi Adam ‘Alaihissalam hadir dimuka bumi, telah ada mahluk lain seperti binatang purba, manusia purba, dan lain sebagainya yang menempati dunia ini. kemudian datang Adam ‘Alaihissalam sebagai puncak penciptaan mahluk-mahluk tersebut.


Lebih lengkapnya di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dijelaskan secara terperinci melalui firman-Nya pada 1.400 Tahun silam :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik." (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14).
Ulama lain yang menyetujui pendapat kedua adalah Al Qurtubi. Beliau mengatakan dalam tafsirnya, “Dalam waktu 6 hari, maksudnya adalah hari di akhirat, bahwa satu hari sama dengan 1000 tahun, karena besarnya penciptaan langit dan bumi.” (Tafsir Al Qurthubi, 7/219)








6 Masa Pembentukan Alam Semesta Menurut Islam



Masa Pertama
“Apakah penciptaanmu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (Qs. An-Nazi’at: 27)
Saat masa ketiadaan ini, alam semesta terbentuk akibat ledakan besar atau dalam dunia barat disebut dengan Big Bang.
Ledakan super masif ini merupakan awal dari terbentuknya ruang dan waktu serta materi. Setelah itu mulai terbentuk dukhan atau awan debu. Dukhan yang berkondesasi sambil berputar akan memadat sehingga terbentuk unsur hidrogen.
Ketika suhu awan debu mencapai 20 juta derajat celcius, helium terbentuk dari reaksi inti sebagian atom hidrogen. Sedangkan sebagian lain berubah menjadi energi yang berbentuk pancaran sinar infra merah (infra red).


Masa Kedua


“Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyemperunakannya” (Qs. An-Nazi’at:28)

Ayat ke-28 dalam surat An-Nazi’at ini menerangkan proses pengembangan dan penyempernaan alam semesta.

Kata “meninggikan bangunan” bermakna alam semesta mengembang, antar galaksi saling menjauhi dan langit semakin meninggi.
Sedangkan kata “menyempurnakan” berarti bahwa alam ini tidak langsung terbentuk seutuhnya. Namun mengalami proses perubahan yang bertahap.


Masa Ketiga



dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang) (Qs. An-Nazi’at: 29)
Pada masa ketiga ini terbentuk matahari yang berfungsi sebagai sumber cahaya dan bumi berputar pada porosnya, sehingga terjadi perubahan siang dan malam. Sesuai dengan arti dari kalimat “Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang)”.


Masa Keempat


“dan setelah itu bumi Dia hamparkan” (Qs. An-Nazi’at: 30)
Daratan bumi muncul pada fase keempat ini. Berjuta tahun yang lalu, saat terjadi tubrukan antara sebuah komet dengan matahari, sebagian massa matahari terpental jauh ke luar.
Massa yang terpental ini nantinya akan berubah menjadi planet-planet. Salah satunya adalah planet bumi.
Kata “Penghamparan” dapat dijabarkan sebagai pembentukan superkontinen pangea yang ada di permukaan bumi. Karena saat itu daratan bumi belum ada. Yang ada hanya bebatuan bersuhu ratusan derajat selsius yang berpijar.

Masa Kelima



“darinya Dia pancarkan mata air dan (ditumbuhkan) tumbuhan-tumbuhannya” (QS.An-Nazi’at:31)
Dalam tahapan kelima ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada kondisi bumi. Dari semula dimana bumi tak berair berubah menjadi ada air.
Air di bumi berasumber dari komet yang menghantam bumi. Kandungan hydrogen dalam komet bereaksi ketika bertubrukan dengan unsur-unsur yang ada di bumi sehingga menghasilkan uap. Uap ini lah yang turun ke bumi sebagai hujan.
Bukti air bumi yang berasal dari komet adalah perbandingan deuterium dan hidrogen dalam air laut sama dengan yang ada di komet.
Semua kehidupan yang ada bersumber dari air. Setelah air di bumi terbentuk, tumbuh-tumbuhan pun mulai bermunculan

Masa Keenam


“dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh” (Qs. An-Nazi’at: 32)
“(semua itu) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu” (Qs. An-Nazi’at: 33)
Pada masa terakhir ini, “gunung-gunung dipancangkan”. Artinya, gunung baru terbentuk setelah daratan tercipta, pembentukan air dan tumbuhnya tanaman.
Gunung mempunyai akar di dalam tanah yang disebut pasak. Sedangkan fungsi gunung untuk menyeimbangkan kerak bumi dan mencegah goyangnya tanah. Setelah gunung terbentuk baru hewan dan manusia diciptakan.








Tidak ada komentar: