Alam semesta adalah ruangan yang sangat besar dan mungkin
tak terbatas dalam volume, hal yang dapat diamati adalah tersebarnya ruang pada
ukuran setidaknya 93 miliar tahun cahaya. Sebagai perbandingan, diameter sebuah
galaksi khas hanya 30.000 tahun cahaya, dan jarak khas antara dua galaksi
tetangga hanya 3 juta tahun cahaya.
Sebagai contoh, panjang diameter Galaksi Bima Sakti kira-kira 100.000 tahun
cahaya, dan galaksi saudara terdekat kita, galaksi andromeda, terletak sekitar
2,5 juta tahun cahaya.
Bagaimana proses penciptaan alam semesta menurut Islam ?
Al-Qur’an sebagai sumber ajaran inti agama Islam, diturunkan untuk menjelaskan kepada manusia hal-hal yan tidak bisa dimengerti oleh akal mereka secara mandiri, seperti esensi iman, ritual-ritual ibadah, serta landasan-landasan etis dan hukum yan berguna untuk mengatur interaksi sosial di antara sesama manusia. selain itu, al-Qur’an juga membicarakan alam semesta, yang meliputi bumi dan langit, unsur-unsurnya yang beraneka ragam, para penghuninya, serta fenomena-fenomena di dalamnya.
Al-Qur’an sebagai sumber ajaran inti agama Islam, diturunkan untuk menjelaskan kepada manusia hal-hal yan tidak bisa dimengerti oleh akal mereka secara mandiri, seperti esensi iman, ritual-ritual ibadah, serta landasan-landasan etis dan hukum yan berguna untuk mengatur interaksi sosial di antara sesama manusia. selain itu, al-Qur’an juga membicarakan alam semesta, yang meliputi bumi dan langit, unsur-unsurnya yang beraneka ragam, para penghuninya, serta fenomena-fenomena di dalamnya.
Perlu diketahui bahwa ketika al-Quran membicarakan tentang alam semesta
(universe) ini, al-Quran tidak membahasnya secara detail. Al-Quran hanya
membahas garis besarnya saja, karena al-Quran bukanlah kitab kosmologi atau
buku-buku ilmu pengetahuan umumnya yang menguraikan penciptaan alam semesta
secara sistematis. Namun, lebih dari seritu ayat berbicara tentang alam semesta
ini, untuk membuktikan kekuasaan, ilmu, dan kebijaksanaan tak terbatas Sang
Pencipta, yang memapu menciptkan jagat raya ini, melenyapkannya, lalu
mengembalikannya ke bentuknya semua.
Hal tersebut dapat kita lihat dalam firma Allah SWT berikut :
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Diaberkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia (QS. Al-Baqarah: 117).
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah
singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara
kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah):
“Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang
kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (QS.
Hud: 7).
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi
kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi
syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As-Sajdah: 4).
Berangkat dari informasi ayat-ayat al-Quran tentang penciptaan alam, maka
penulis berusaha menjelaskan proses penciptaan alam semesta menurut al-Quran.
Untuk mencapai maksud tersebut, memang dirasakan kesulitan tersendiri, karena
al-Quran selain bersifat universal dan informasinya mengandung prinsip-prinsip
dasarnya saja, juga yang dibicarakannya menyangkut alam fisis.
Dari informasi pertama tentang proses penciptaan alam semesta yang terdiri
dari tiga bentuk kata yang erat kaitannya dengan hal ini, yaitu khalq,
bad’ dan fathr, tidak ditemukan pada redaksinya
penjelasan yang tegas, apakah alam semesta diciptakan dari materi yang sudah
ada atau dari ketiadaan? Jadi ketiga bentuk kata tersebut hanya menjelaskan
bahwa Allah pencipta alam semesta tanpa menyebut dari ada tiadanya.
Sementara “Ibnu Jarir dalam Tarikh al-Thobari” menyinggung bahwa periodesasi
atau tahapan penciptaan alam dapat disimak dari hadits Nabi ketika menjawab
pertanyaan orang-orang Yahudi yang mendatangi Rosul saw dan menanyakan perihal
penciptaan langit dan bumi.
Maka Rosul menjawab bahwa
“Allah menciptakan bumi pada hari ahad dan senin, lalu menciptakan
gunung-gunung pada hari selasa, lalu di hari rabu allah menciptkan pepohonan,
air dan infastuktur bumi, bangunan dan perusakan, pada hari kamis Allah
menciptakan langit. Lalu pada hari jum’at Allah menciptakan bintang- bintang,
matahari dan malaikat, hingga tersisa tiga masa (sa’at) dari zaman itu, pada
masa pertama (al-sâ’ah al-ûla) dari tiga masa tersebut adalah
penciptaan ketentuan-ketentuan hidup dan mati, kedua (al-sâ’ah al-tsâniyah)
memberikan suatu cobaan terhadap segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia,
ketiga (al-sâ’ah al-tsâlitsah) menciptakan adam dan menempatkannya di surga dan
memerintahkan pada iblis untuk bersujud padanya dan mengeluarkan iblis dari
surga”.
Kemudian orang-orang Yahudi tadi bertanya tentang apa yang dikerjakan
Allah selanjutnya, Muhammad menjawab “kemudian Allah bersemanyam dalam arsy”
Lantas mereka berkata ‘kamu benar seandaikan kamu sempurnakan lagi (dari
cerita)’, mereka menjawab, kemudian (Allah) beristirahat. Dengan ucapan tadi
Nabi amat marah, maka turunlah ayat
“Dan kami telah menciptakan langit dan bumi dan diantara keduanya selama
enam masa tanpa kecapaian. Maka bersabarlah (wahai Muhammad) atas ucapan
mereka….” Surat Qaf : 38-39.
Kemudian proses berikutnya dideskripsikan oleh surat al- Anbiya’/21: 30,
“Apakah orang-orang kafir tidak mengetahi bahwasanya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan
dari air kami jadikan segala sesuau yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada
juga beriman?”. (QS. Al- Anbiya’: 30).
Ayat ini merupakan satu-satu ayat al-Quran yang menerangkan “pembentangan”
alam semesta. Dapat disimpulkan bahwa ruang alam (al-sama’)
dan materi (al-ardl) sebelumnya dipisahkan Allah
adalah sesuatu yang padu. Jadi alam semesta ketika itu merupakan satu kumpulan.
Rangkaian proses berikutnya, --setelah terjadi pemisalah oleh Allah—alam
semesta mengalami proses transisi fase membentuk dukhon. Hal
ini terungkap dari pernyataan Surat Fushshilat : 11;
“kemudian Allah menuju penciptaan ruang alam (al- sama’), yang ketika
itu penuh “embunan (al-dukhon)”.
Hal ini disebabkan, agar tidak terjadi kekeliruan dalam menangkap maksud
kata ‘dukhon’ yang dihubungkan dengan proses penciptaan alam semesta,
maka seharusnya kata ini dipahami degan hasil temuan sains yang telah
terandalkan kebenarannya secara empiris. Hasil temuan ilmuan mengenai hal ini
adalah bahwa suatu ketika dalam penciptaan terjadinya ekspansi yang sangat
cepat sehingga timbul “kondensasi” dimana energi berubah menjadi materi.
Kata “al-dukhan (embunan)” bukanlah menunjukkan materi asal ruang alam, akan
tetapi ia menjelaskan tentang bentuk alam semesta ketika berlangsungnya fase
awal penciptaannya.
Kemudian dalam al-Quran disebut berturut-turut disebut bahwa alam semesta
diciptakan selama enam tahap atau periode (ayyam). Secara global
disebut dalam surat Hud/11:7
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,
dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah
di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk
Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang
yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.
Kemudian diulang kembali penyebutannya dengan menambah “apa yang ada diruang
alam dan materi”, dalam surat al-Sajdah : 4.
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi
kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi
syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As-Sajdah: 4).
Keterangan ini juga didukung beberapa ayat yang konteksnya sama dalam surat
Fushshilat : 9-12,
Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan
bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat)
demikian itu adalah Rabb semesta alam.” (9). Dan dia menciptakan di bumi itu
gunung-gunung yang kokoh di atasnya.
Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. (10). Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (11). Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik- baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (12) (QS. Fushshilat: 9-12)
Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. (10). Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (11). Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik- baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (12) (QS. Fushshilat: 9-12)
Di kuatkan juga surat al-A’raf : 54,
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam
kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula)
matahari, bulan dan bintang- bintang (masing-masing) tunduk kepada
perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha
Suci Allah, Tuhan semesta alam (al-A’raf: 54).
(Allah)Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya
dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha
Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui
(Muhammad) tentang Dia. (al-Furqan: 59).
Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada
antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.
(QS. Qaf: 38)
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4)
Kata yaum dengan jama’nya ayyam (tahapan)
atau periode dalam al-Quran bukanlah dimaksud batasan waktu antara terbenamnya
matahari hingga terbenam lagi esoknya seperti hari dibumi kita ini. Menurut
kalam arab dan kebanyakan ayat-ayat al-Quran, kata ini dipakai untuk suatu masa
atau periode (juz’ min al-zaman) yang kadarnya tidak dapat
ditentukan dan tidak ada seorang pun yang mengetahui hakikatnya secara pasti
kecuali Allah. Yaum jika diterjemahkan hari sama dengan hari
dunia saat ini, maka tidak logis dan ia bertentangan juga dengan ayat-ayat
al-Quran yang lain. Tidak logis karena penciptaan hari ini baru ada setelah
penciptaan alam semesta.
Dalam al-Quran banyak ayat yang secara eksplisit menyebutkan ruang alam (al-sama’)
berjumlah tujuh. Sedangkan materi (al-ardl) sebagaimana ruang
alam secara implisit disebutkan juga jumlahnya tujuh.
Sebagaimana yang tertera dalam surat al-Thalaq : 12
Sebagaimana yang tertera dalam surat al-Thalaq : 12
“Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.
Perintah Allah agar berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha
kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhanya Allah, ilmu-Nya benar meliputi
segala sesuatu”. (QS. Ath-Thalaq: 12)
Sumber : Ahmad Atabik, Konsep penciptaan alam: Studi
Komparatif-Normatif antar Agama-Agama, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus.
Al-Quran sebagai kitab suci yang terakhir diturunkan ke bumi pun banyak membahas tentang kejadian alam dan segala peristiwa yang berkaitan dengannya, yakni pada beberapa surat yang ada didalamnya.
1. Big Bang
Semua kalangan ilmiah sepakat bahwa ledakan “Big Bang” bermula dari sebuah
titik tunggal sekitar 15 milliar tahun lalu (Harun Yahya, Penciptaan Alam Raya,
Dzikira, Bandung 2003). Bahwa alam semesta memiliki permulaan dari ketiadaan
pada sebuah moment ledakan besar. Lebih lanjut terbukti bahwa alam tidak
statis/tetap.
Teori Big Bang menunjukkan bahwa semua benda di alam semesta pada awalnya
adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan
materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik
tunggal, dan membentuk alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang
lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi
keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. maka mengapa mereka tidak
juga beriman?” (QS. Al Anbiya’: 30)
Pada awal abad ke 20, fisikiawan Rusia, Alexander Friedmann dan ahli
kosmologi Belgia, George Lemaitre secara teoritis menghitung bahwa alam semesta
senantiasa bergerak dan mengembang. Fakta ini dibuktikan dengan data pengamatan
pada tahun 1929 ketika mengamati langit dengan teleskop oleh ahli astronomi
asal Amerika, Edwin Hubble.
Singkatnya bintang-bintang bergerak menjauh dan semakin menjauh setiap saat
berarti ia terus menerus “mengembang”.
Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dengan kekuatan kami.
dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa. (Q.S. Adz Dzariat
51:47)
Kata “langit” yang dinyatakan dalam ayat tersebut digunakan di pelbagai
tempat dalam Al-Quran. Kata ini mengacu pada angkasa dan jagat secara
keseluruhan. Dalam kalimat bahasa Arab, Inna lamusi una yang diterjemahkan
menjadi ‘sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya’. Kata Musi una berasal
dari kata kerja aswa’a, yang berarti ‘mengembang’.
2. Evolusi
Mengenai lika-liku mahluk hidup dan asal usul kehidupannya, maka saya
memperkenalkan teori Darwin, bapak evolusi yang menerangkan tentang asal mula
mahluk hidup dalam bukunya yang terkenal “The Orign of Species” (Asal-usul
mahluk hidup). Mungkin teori juga yang menjadi Influence dalam film Planet of
the Apes.
Dalam teorinya itu Darwin menyatakan, bahwa semua mahluk hidup itu berasal
dari jenis yang sama, akan tetapi mereka berbeda-beda dalam bentuk dan
fisiknya. Dalam perjalanannya mengelilingi dunia, Darwin mencoba mengumpulkan
beberapa sample (contoh) mahluk hidup, baik yang didarat, laut, di atas
permukaan air dan juga yang didasar laut.
Dan dari penelitiannya itu ia
mencatat beberapa kesimpulan diantaranya sebagai berikut:
·
Bahwa sebenarnya kehidupan itu selalu berubah
dan berevolusi dari bentuk asalnya, sesuai dengan lingkungan dan kondisinya.
·
Orang yang berdomisili di daerah kutub secara
otomatis tubuhnya akan gemuk dengan lemak. Yakni agar dapat beradaptasi dengan
iklim dingin (salju). Dan orang yang berdomisili di daerah beriklim tropis dan
panas, maka secara otomatis tubuh mereka terlihat kurus agar tidak terlalu
panas oleh sinar matahari.
·
Binatang kadal yang hidup didalam goa yang
gelap, biasanya penglihannya itu tidak berfungsi dan juga tidak berwarna.
Sedangkan kadal yang hidup di daratan mempunyai penglihatan yang tajam dan
berwarna
·
Mulut-mulut hewan yang hidup di dunia ini, pada
prinsipnya berbeda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kegunaan dan
manfaatnya masing-masing. Seperti harimau mempunyai gigi yang tajam dan kuat,
yang bermanfaat untuk menggoyak dan merobek daging mangsanya. Sedangkan burung
memiliki paruh untuk mematuk biji-bijian. Demikian pula nyamuk dengan mulutnya
yang berbentuk suntikan, berguna untuk menghisap darah, dan lain sebagainya.
Kemudian muncul sebuah pertanyaan: “apakah benar teori yang menyatakan,
bahwa seluruh hewan yang ada dimuka bumi ini berasal dari satu species? Lalu
dari satu species ini berkembang dan ber evolusi dalam berbagai macam bentuk
serta rupa yang bermacam-macam berdasarkan pada iklim dan kondisi yang
ditempatinya.
Maka berdasarkan beberapa riset dan penelitian anatomi bahwa jumlah jari kaki
dan tangan manusia ada lima, yang mana sama dengan jumlah jari kaki dan tangan
kera, kucing, dan bahkan kekelawar. Juga hati dan aliran darah manusia sama
persis dengan aliran darah ikan paus, kera, tikus, dan binatang berdarah panas
lainnya.
Demikian pula beberapa persamaan yang ada pada setiap hewan/binatang di muka bumi ini, seperti urat nadi, susunan syaraf, tulang punggung, otot dengan tulang.alat-alat reproduksi pada hewan seperti testis, ovary, saluran testis dan Rahim juga mempunyai kemiripan. Ini membuktikan bahwa ada satu kesamaan dan kemiripan pada hewan-hewan yang ada dimuka bumi ini. Kemudian penemuan tengkorak manusia purba yang mirip dengan kera di daerah Transaval, Beijing, dan Jawa (manusia Trinil) di dalam goa-goa yang penuh dengan batu bara, menunjukan: bahwa manusia-manusia purba tersebut telah menemukan cara membuat api dan mempergunakannya sejak ratusan ribu tahun lalu. Darwin telah menyatakan dalam teorinya bahwa ‘manusia berasal dari kera yang mempunyai IQ yang tinggi’, sebagimana yang kita pahami selama ini. Dan hal itu merupakan guyonan media massa yang mengeksploitasi dan menyebarkannya dalam bentuk karikatur, hingga akhirnya menciptakan image negative terhadap teori Darwin.
Tentunya teori Darwin tidak dapat menyelami sebagian rahasia alam, bahwa ada
tangan-tangan yang merancang dan menyusun semua keajaiban di dunia ini.
Kelemahan indra penglihatan ini menyebabkan kita melihat segala sesuatu tanpa
kita melihat langsung pembuatnya. Kita bias melihat gerobak, becak, delman,
motor, mobil, dan kereta, akan tetapi kita tidak dapat melihat secara langsung
siapa pembuatnya. Kemudian kita berdalih bahwa alat-alat transportasi tersebut
ada sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.
Kemudian ada juga ayat yang menyebutkan :
“Bahwa sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan Kamu (manusia, Adam)
selama beberapa masa”.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (yang
berasal dari) tanah. (Al Mu’minum - 12)
Ini berarti bahwa sebelum Nabi Adam ‘Alaihissalam hadir dimuka bumi, telah
ada mahluk lain seperti binatang purba, manusia purba, dan lain sebagainya yang
menempati dunia ini. kemudian datang Adam ‘Alaihissalam sebagai puncak
penciptaan mahluk-mahluk tersebut.
Lebih lengkapnya di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis
dijelaskan secara terperinci melalui firman-Nya pada 1.400 Tahun silam :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu
saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani
(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu
Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk)
lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik." (QS.
Al Mu’minuun (23) : 12-14).
Ulama lain yang
menyetujui pendapat kedua adalah Al Qurtubi. Beliau mengatakan dalam tafsirnya,
“Dalam waktu 6 hari, maksudnya adalah hari di akhirat, bahwa satu hari sama
dengan 1000 tahun, karena besarnya penciptaan langit dan bumi.” (Tafsir Al
Qurthubi, 7/219)
Masa
Pertama
“Apakah penciptaanmu
yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (Qs. An-Nazi’at: 27)
Saat masa ketiadaan
ini, alam semesta terbentuk akibat ledakan besar atau dalam dunia barat disebut
dengan Big Bang.
Ledakan super masif
ini merupakan awal dari terbentuknya ruang dan waktu serta materi. Setelah itu
mulai terbentuk dukhan atau awan debu. Dukhan yang berkondesasi sambil berputar
akan memadat sehingga terbentuk unsur hidrogen.
Ketika suhu awan debu
mencapai 20 juta derajat celcius, helium terbentuk dari reaksi inti sebagian
atom hidrogen. Sedangkan sebagian lain berubah menjadi energi yang berbentuk
pancaran sinar infra merah (infra red).
“Dia telah
meninggikan bangunannya lalu menyemperunakannya” (Qs. An-Nazi’at:28)
Ayat ke-28 dalam
surat An-Nazi’at ini menerangkan proses pengembangan dan penyempernaan alam
semesta.
Kata “meninggikan bangunan” bermakna alam semesta mengembang, antar galaksi
saling menjauhi dan langit semakin meninggi.
Sedangkan kata
“menyempurnakan” berarti bahwa alam ini tidak langsung terbentuk seutuhnya.
Namun mengalami proses perubahan yang bertahap.
dan Dia menjadikan
malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang) (Qs.
An-Nazi’at: 29)
Pada masa ketiga ini
terbentuk matahari yang berfungsi sebagai sumber cahaya dan bumi berputar pada
porosnya, sehingga terjadi perubahan siang dan malam. Sesuai dengan arti dari
kalimat “Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang
benderang)”.
“dan setelah itu bumi
Dia hamparkan” (Qs. An-Nazi’at: 30)
Daratan bumi muncul
pada fase keempat ini. Berjuta tahun yang lalu, saat terjadi tubrukan antara
sebuah komet dengan matahari, sebagian massa matahari terpental jauh ke luar.
Massa yang terpental
ini nantinya akan berubah menjadi planet-planet. Salah satunya adalah planet
bumi.
Kata “Penghamparan”
dapat dijabarkan sebagai pembentukan superkontinen pangea yang ada di permukaan
bumi. Karena saat itu daratan bumi belum ada. Yang ada hanya bebatuan bersuhu
ratusan derajat selsius yang berpijar.
“darinya Dia
pancarkan mata air dan (ditumbuhkan) tumbuhan-tumbuhannya” (QS.An-Nazi’at:31)
Dalam tahapan kelima
ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada kondisi bumi. Dari semula dimana
bumi tak berair berubah menjadi ada air.
Air di bumi
berasumber dari komet yang menghantam bumi. Kandungan hydrogen dalam komet
bereaksi ketika bertubrukan dengan unsur-unsur yang ada di bumi sehingga
menghasilkan uap. Uap ini lah yang turun ke bumi sebagai hujan.
Bukti air bumi yang
berasal dari komet adalah perbandingan deuterium dan hidrogen dalam air laut
sama dengan yang ada di komet.
Semua kehidupan yang
ada bersumber dari air. Setelah air di bumi terbentuk, tumbuh-tumbuhan pun
mulai bermunculan
“dan gunung-gunung
Dia pancangkan dengan teguh” (Qs. An-Nazi’at: 32)
“(semua itu) untuk
kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu” (Qs. An-Nazi’at: 33)
Pada masa terakhir
ini, “gunung-gunung dipancangkan”. Artinya, gunung baru terbentuk setelah
daratan tercipta, pembentukan air dan tumbuhnya tanaman.
Gunung mempunyai akar
di dalam tanah yang disebut pasak. Sedangkan fungsi gunung untuk menyeimbangkan
kerak bumi dan mencegah goyangnya tanah. Setelah gunung terbentuk baru hewan
dan manusia diciptakan.

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar